29°C
Header Billboard Besar (970x250 / 1100x200)

Banting Setir Jadi Penjual Rujak di Bandung, Eks Petani Garut Ini Raup Untung Saat Kemarau

Demi penuhi kebutuhan anak dan istri di kampung halaman, Wahid memilih merantau ke Bandung untuk berjualan rujak ulek.

Aiwa
Aiwa
Wartawan Tasela•Rabu, 7 Oktober 2026 • 07:30 WIB•311x dibaca
Wahid saat meracik bumbu rujak ulek dagangannya di kawasan Lodaya, Bandung.
Wahid saat meracik bumbu rujak ulek dagangannya di kawasan Lodaya, Bandung.📷 Sumber Terkait
Single Article - Top Banner

KABARTASELA.ID, BANDUNG — Cuaca terik yang menyengat kawasan Lodaya, Kota Bandung, menjadi berkah tersendiri bagi para penjual kuliner segar. Di tengah teriknya siang hari, kehadiran pedagang rujak ulek di kawasan ini kerap diburu warga untuk menyegarkan tenggorokan yang kering. Salah satu penjual yang setia melayani pembeli adalah Wahid (31), seorang perantau asal Kabupaten Garut.

Wahid baru setahun belakangan ini beralih profesi menjadi penjual rujak di sekitar Lapangan Baseball Lodaya, Jalan Sancang. Sebelumnya, ia menggantungkan hidup sebagai petani di kampung halamannya. Namun, karena penghasilan dari bertani yang tidak menentu, ia memutuskan untuk merantau ke Bandung demi menghidupi anak dan istrinya.

Setiap hari, Wahid menawarkan tiga pilihan menu rujak di gerobaknya, yaitu rujak ulek seharga Rp25.000, rujak campur Rp20.000, dan rujak cuka seharga Rp15.000 per porsi. Racikan bumbu rujak ulek buatannya terbilang khas karena menggunakan campuran cabai rawit, asam, kacang, terasi, hingga pisang mentah yang memberikan sensasi rasa sepat yang segar di lidah.

Keputusannya merantau ke Bandung berbuah manis. Terlebih di musim kemarau seperti saat ini, omzet penjualannya meningkat hingga 20 persen. Dalam sehari, ia mampu meraup pendapatan kotor sekitar Rp300.000 hingga Rp400.000, dengan keuntungan bersih mencapai Rp150.000 per hari.

Iklan

"Kebutuhan saja, harus ada penghasilan. Anak dan istri belum dibawa ke Bandung, paling kalau anak udah umur tiga tahunan," ujar Wahid.

Saat ini, anak Wahid yang baru berusia satu tahun masih tinggal bersama sang istri di Garut karena keterbatasan biaya. Itulah mengapa ia rela berjuang keras di perantauan demi masa depan buah hatinya.

Kualitas rasa rujak ulek buatan Wahid juga telah memikat banyak pelanggan setia. Salah satunya adalah Merlin (28), yang mengaku bisa membeli rujak buatan Wahid hingga tiga kali dalam seminggu untuk dinikmati bersama rekan kerjanya.

"Paling enak sama krupuk blek makannya, seger jam segini makan rujak," tutur Merlin.

Setiap hari kerja, Wahid biasa mangkal di kawasan Lodaya. Namun khusus pada hari Sabtu dan Minggu pagi, ia memindahkan gerobak dagangannya ke Lapangan Tegalega untuk menjaring pembeli yang tengah berolahraga.

Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Aiwa
Penulis Berita

Aiwa

Wartawan / Reporter Lapangan
"Wartawan di kabartasela.id yang berfokus pada peliputan berita nasional dan dinamika politik."
56 Artikel DiterbitkanBergabung Kamis, 10 September 2026

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...