KABARTASELA.ID, Bandung — Aroma malam yang dulu akrab menyertai proses kreasi, kini tak lagi banyak tercium dari dapur-dapur perajin di Bandung. Batik nyere, sebuah inovasi seni tekstil khas Kota Kembang yang memanfaatkan sapu lidi sebagai alat pembatik, kini berada di persimpangan jalan, terancam pudar ditelan zaman. Dulu menjadi ikon kebanggaan, kini warisan berharga ini menanti sentuhan generasi penerus.
Digagas oleh M. Yahya pada awal tahun 2010-an, batik nyere lahir dari keinginan untuk mempermudah proses pembuatan motif, menjadikannya lebih mudah diakses dan menarik bagi kaum muda. Nama 'nyere' sendiri diambil dari istilah Sunda untuk sapu lidi, mencerminkan metode uniknya yang berbeda dari canting tradisional. Namun, pasca-kepergian sang penggagas, eksistensi batik nyere menghadapi masa senja.
Yeni (70), salah satu perajin yang pernah berguru langsung kepada M. Yahya, tak dapat menyembunyikan rasa kehilangannya. Ia meyakini potensi besar kesenian ini untuk menjadi identitas Bandung di kancah internasional. Bagi Yeni, kepraktisan proses dan fleksibilitas penggunaan bahan kain menjadi nilai jual utama batik sapu lidi.
"Bahan dan alatnya relatif murah, proses pengerjaannya juga tidak memakan waktu yang lama, paling hanya butuh satu hingga dua hari saja. Selain menggunakan malam layaknya batik pada umumnya juga bisa dicampur dengan zat warna seperti indigo atau naptol,"
jelas Yeni, seraya menambahkan bahwa motif batik nyere sangat bergantung pada imajinasi perajinnya. Segala benda di sekitar, mulai dari daun, serpihan atap, hingga obat nyamuk bakar, bisa disulap menjadi pola menarik. Kelebihan lainnya, batik nyere mampu diaplikasikan pada bahan tebal, memungkinkan kreasi menjadi sepatu, gorden, jeans, hingga karpet.
Pandangan serupa juga diutarakan Akih (51), perajin yang menimba ilmu dari M. Yahya pada tahun 2017. Baginya, kebebasan berekspresi menjadi daya tarik utama, didukung ketersediaan bahan-bahan motif yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Akih bahkan sempat berbagi pengetahuannya tentang pembuatan batik nyere kepada sejumlah kelompok ibu-ibu.
Proses pembuatan batik nyere sendiri relatif sederhana, seperti yang pernah diungkapkan Akih dalam wawancara dengan detikJabar. Dimulai dari menyiapkan sapu lidi, malam, dan kain katun, perajin dapat menciptakan motif awal menggunakan cetakan atau benda di sekitar. Setelah malam dicairkan, sapu lidi dicelupkan dan dikepretkan ke kain untuk membentuk pola titik-titik malam. Setelah kering, kain diwarnai, diberi penguat, dan didiamkan sebelum melalui proses pelorodan di air mendidih untuk menghilangkan malam, kemudian dibilas dan dijemur.
Meskipun menghadapi tantangan, Yeni tetap menyimpan optimisme tinggi. Ia menyerukan kepada masyarakat untuk bergotong royong melestarikan batik nyere. Dengan pintu yang selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, Yeni berharap kesenian ini dapat kembali bangkit.
"Pengennya ada orang yang senang dengan batik dan bisa mengeluarkan anggaran untuk mengadakan pelatihan, bahkan kalau bisa hingga proses produksi, distribusi, hingga pemasaran supaya enggak punah. Saya hanya bisa fasilitasi ilmu saja, sebelum berpulang,"
pungkas Yeni penuh harap. Pelestarian batik nyere bukan hanya tentang menjaga sebuah seni, melainkan juga merawat identitas dan warisan budaya Kota Bandung untuk generasi mendatang.










