KABARTASELA.ID, LOS ANGELES — Raksasa penyedia layanan hiburan streaming, Netflix, secara resmi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar enam persen karyawannya, atau setara 1.000 orang. Efisiensi massal ini menjadi restrukturisasi terbesar yang dilakukan perseroan sejak 2022, dipicu oleh ketatnya persaingan dengan media konvensional serta platform digital berbasis video gratis.
Pemangkasan tenaga kerja tersebut dikonfirmasi menyasar sejumlah divisi strategis, meliputi tim produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia (SDM). Informasi PHK ini disampaikan langsung oleh dua pimpinan tertinggi Netflix, Co-CEO Greg Peters dan Ted Sarandos, melalui memo elektronik internal yang dikirimkan kepada seluruh staf.
"Misi kami, yakni menghibur dunia, merupakan ambisi besar. Untuk mewujudkannya, kami harus disiplin dalam menentukan prioritas penggunaan tenaga kerja dan sumber daya. Bisnis kami kuat dan terus tumbuh, dan kami tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target kinerja setahun penuh,"
Langkah pemangkasan skala besar terakhir yang pernah dicatat Netflix terjadi pada 2022. Pada masa itu, perseroan melepas sekitar 450 karyawan dalam dua gelombang terpisah usai mengalami penurunan basis pelanggan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Hingga akhir tahun lalu, Netflix tercatat memiliki sekitar 16.000 tenaga kerja.
Meski manajemen menegaskan performa bisnis tetap berada di jalur pertumbuhan, sentimen investor dibayangi kekhawatiran atas kemampuan perseroan mempertahankan durasi menonton pengguna (user engagement). Platform seperti YouTube dan TikTok terus mendominasi konsumsi publik melalui konten gratis buatan pengguna, yang memberi mereka keunggulan biaya operasional dibandingkan model produksi konten Netflix yang mahal. Tekanan ini berimbas pada harga saham Netflix yang telah terkoreksi sekitar 25 persen sepanjang tahun berjalan, kendati naik tipis 0,7 persen pada penutupan Rabu.
Kecemasan pasar makin bertambah pascakegagalan Netflix dalam manuver akuisisi studio dan aset streaming Warner Bros Discovery awal tahun ini. Aset tersebut akhirnya resmi diakuisisi oleh Paramount senilai 110 miliar dolar AS guna mendirikan entitas Skydance (SKYD.N). Kondisi ini dinilai mempersempit opsi diversifikasi usaha perseroan.
"Mereka belum berhasil menemukan sumber pendapatan besar lainnya. Pada akhirnya, karena bisnis berlangganan mereka mulai mendekati batas tersebut, mereka perlu mencari sumber pendapatan lain untuk melakukan diversifikasi. Namun, upaya itu masih menjadi tantangan bagi mereka,"
Melalui langkah perampingan organisasi ini, analis senior eMarketer Ross Benes menilai Netflix kini menghadapi tantangan berat untuk menjaga profitabilitas jangka panjang di tengah batas maksimal pertumbuhan model bisnis berbasis langganan.










