29°C
Header Billboard Besar (970x250 / 1100x200)

Menyusup ke Lorong Imajinasi Grey Art Gallery Braga: Saat Bandung Menjadi Fiksi dan Perjalanan Rasa

Menemukan keheningan artistik lewat pameran kontemporer 'Cities Fiction' dan 'Mencerap Tatap' di jantung Kota Kembang.

Neng Maya Lestari, S.Pd
Neng Maya Lestari, S.Pd
Wartawan Tasela•Sabtu, 10 Oktober 2026 • 08:44 WIB•260x dibaca
Eksplorasi visual estetis di sudut ruang pameran Grey Art Gallery Braga.
Eksplorasi visual estetis di sudut ruang pameran Grey Art Gallery Braga.📷 Sumber Terkait
Single Article - Top Banner

KABARTASELA.ID, Bandung — Langkah kaki di sepanjang trotoar legendaris Jalan Braga terasa begitu syahdu pada Kamis (8/10/2026). Di tengah deru kendaraan dan keriuhan kota, Grey Art Gallery berdiri anggun layaknya sebuah oase yang membisikkan ajakan ramah: menanggalkan sejenak kepenatan urban dan menyesap kisah-kisah yang tertuang di setiap sudut dindingnya.

Sejak pertama kali membuka pintunya pada tahun 2023, sang pendiri, Grace Christianti dan Elia Yoesman, memang membawa impian yang tulus. Mereka ingin menyediakan panggung hangat bagi para seniman muda untuk merayakan imajinasi liar mereka. Memasuki bulan Oktober 2026, galeri ini tetap setia dengan napas digitalnya yang adaptif, bersolek dengan tema baru setiap bulan agar para pencinta seni selalu menemukan alasan untuk kembali jatuh cinta. Kali ini, dua narasi besar bersanding dengan anggun: Cities Fiction dan Mencerap Tatap.

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu utama, mata pengunjung langsung dimanjakan oleh ketajaman visual karya kolektif fotografer Derkeun yang melebur indah dalam estetika kontemporer. Rangga, sang Koordinator Art Support Grey Art Gallery, menuturkan bahwa pameran Cities Fiction di bawah kurasi Henrycus Napitsunargo ini merupakan sebuah upaya puitis dalam memotret lanskap Bandung secara spesifik.

"Fotografi yang ditangkap oleh rekan-rekan dari Derken ini akan dikembangkan dengan berbagai metode dan gayanya masing-masing. Jadi kita akan melihat ternyata dari fotografi itu bisa dikembangkan dalam dunia seni rupa kontemporer"

Suasana di dalam ruangan didominasi oleh palet biru tua dan putih yang menenangkan, membingkai memori visual Kota Bandung dari masa ke masa dalam cetakan monokrom yang elegan. Salah satu karya yang memikat perhatian adalah gubahan Iswanto Soerjanto. Dengan magis, ia menyulap ikon arsitektur kota seperti Gedung Sate dan Hotel Savoy Homann menjadi mozaik indah yang menyerupai motif batik, mengajak kita memandang Bandung sebagai kota imajiner yang penuh misteri.

Namun, Bandung tak melulu tentang kemegahan visual. Di sudut lain yang lebih sunyi, Mamat Solihin membawa kita pada realitas yang lebih intim sekaligus getir lewat karyanya yang bertajuk "Tetanggaku Sudah Berpulang". Melalui bidikan kamera analog, ia merekam betapa tipisnya sekat kehidupan antara pemukiman padat penduduk dan keheningan abadi di pemakaman Cikadut. Sebuah anomali visual yang mengetuk kesadaran kita tentang batas tipis antara yang bernyawa dan yang telah tiada.

Iklan

Petualangan rasa berlanjut saat kita melangkah menuruni tangga kayu yang berderit lembut menuju lantai bawah. Di sana, ruang pameran Mencerap Tatap yang dikurasi oleh Khalisa Nisrina menyuguhkan energi segar khas dunia akademis. Ruang ini menjadi wadah ekspresi bagi para mahasiswa seni dari berbagai universitas untuk memamerkan eksplorasi kreatif mereka.

Salah satu magnet yang paling memikat di lantai ini adalah sebuah instalasi interaktif berjudul "Ila". Karya ini mengajak pengunjung bermain dengan cahaya. Dengan menggenggam senter RGB (merah, hijau, biru), setiap sorotan warna yang diarahkan ke kanvas akan menyingkap lapisan-lapisan visual yang tersembunyi, menciptakan pengalaman personal yang magis bagi setiap pasang mata yang memandangnya.

Ketika melangkah naik ke lantai teratas yang serba putih bersih, atmosfer seketika berubah menjadi lebih kontemplatif dan mendalam. Di sinilah isu-isu hangat seperti perjuangan perempuan, kritik sosial-politik, hingga memoar pribadi sang seniman disajikan secara jujur dan lugas. Rangga menegaskan bahwa Grey Art Gallery akan selalu konsisten membuka lebar pintu kolaborasi bagi berbagai institusi maupun komunitas kreatif.

"Kami selalu menghadirkan program dalam bentuk open call atau open submission di mana ini terbuka untuk publik. Kami berusaha untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada seniman-seniman muda"

Tak heran jika galeri ini menjelma menjadi ruang temu favorit bagi Generasi Z. Setiap program dikemas apik agar tetap relevan dengan selera estetika masa kini tanpa pernah kehilangan kedalaman makna di dalamnya.

Faisal, seorang pengunjung yang sengaja datang dari Yogyakarta, tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya. Baginya, mengunjungi galeri seni adalah ritual penyembuhan jiwa yang sangat esensial. Ia mengaku sangat terkesan dengan interaktivitas magis dari karya "Ila".

"Buat karya-karya di Bandung menurutku memang identik dengan karya yang konsepnya sangat matang. Aku tertarik sama satu karya yang di bawah, yang pake senter. Aku menangkap ada penindasan dan pembungkaman dalam karyanya"

Bagi Faisal, mengapresiasi seni bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membagikan keindahan visual tersebut ke jejaring sosial. Namun, ia juga menyuarakan pesan mendalam mengenai pentingnya integritas dalam berkarya.

"Aku cuma pengen seni rupa di Indonesia semakin maju. Jadi semua komunitas atau kelompok yang membantu membangun seni rupa itu bisa bersatu. Aku cuma menentang penjiplakan, say no to menjiplak karya"

Pameran Cities Fiction dan Mencerap Tatap akan terus menyapa ruang-ruang apresiasi publik sepanjang bulan Oktober 2026 ini. Lebih dari sekadar tempat untuk berswafoto, galeri ini menawarkan sebuah perjalanan rasa yang mendalam di jantung Kota Kembang.

Informasi Praktis Kunjungan:

  • Lokasi: Grey Art Gallery, Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat.
  • Periode Pameran: Berlangsung sepanjang bulan Oktober 2026.
  • Harga Tiket Masuk:
    • Hari Kerja (Weekday): Rp25.000 per orang.
    • Akhir Pekan (Weekend): Rp30.000 per orang.
  • Agenda Utama: Pameran seni kontemporer "Cities Fiction" dan pameran akademis "Mencerap Tatap".
  • Tips Liburan: Cobalah berinteraksi langsung dengan karya instalasi "Ila" menggunakan senter RGB di lantai bawah untuk merasakan pengalaman seni interaktif yang sesungguhnya.
Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Neng Maya Lestari, S.Pd
Penulis Berita

Neng Maya Lestari, S.Pd

Wartawan / Reporter Lapangan
"Wartawan kabartasela.id yang mengeksplorasi keindahan destinasi wisata, tradisi masyarakat adat, dan kekayaan warisan budaya nusantara."
39 Artikel DiterbitkanBergabung Kamis, 20 Agustus 2026

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...