KABARTASELA.ID, KOTA TASIKMALAYA – SMAN 6 Tasikmalaya, Jawa Barat, menorehkan terobosan nyata dalam pengelolaan lingkungan hidup. Melalui program kokurikuler yang digulirkan secara berkesinambungan sejak tahun 2025, pihak sekolah berhasil menyulap timbunan sampah organik menjadi aneka sumber daya bernilai guna tinggi, mulai dari kompos, pupuk organik cair, pakan ternak, hingga media budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Langkah progresif ini menyasar limbah organik yang bersumber dari lingkungan sekolah, kantin, rumah tangga warga sekolah, hingga sebagian kecil sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator Kokurikuler sekaligus guru kimia SMAN 6 Tasikmalaya, Nandar Setiamulyadi, menjelaskan bahwa gerakan peduli lingkungan ini lahir dari keprihatinan bersama atas potensi penumpukan sampah. Inisiatif ini sekaligus menjawab arahan kebijakan kurikulum perubahan iklim dari Permendikbudristek serta selaras dengan program Panca Waluya Jawa Barat.
"Kami sengaja memprioritaskan sampah organik karena lebih aman dan mudah diolah dibandingkan limbah anorganik," kata Nandar saat ditemui di lingkungan sekolah, Senin (12/10/2026).
Efisien Urai Limbah, Panen 146 Kilogram Maggot BSF
Nandar memaparkan, penguraian sampah organik dilakukan secara terpadu melalui budidaya maggot BSF. Metode biologis ini terbukti sangat produktif sekaligus efisien dalam memangkas volume sampah harian.
Dari pembiakan awal sebanyak 20 gram telur maggot, para siswa dan tim pengelola mampu memanen sekitar 146 kilogram maggot segar hanya dalam siklus 21 hari. Hasil panen larva berkadar protein tinggi ini langsung dimanfaatkan sebagai pakan peningkat nutrisi untuk budidaya ikan dan peternakan ayam sekolah.
Menanggapi isu limbah makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Nandar meluruskan bahwa sisa makanan MBG hanyalah porsi kecil dari keseluruhan volume sampah yang diproses. Pemanfaatannya ditujukan demi mencegah pembusukan liar yang memicu bau tidak sedap di area belajar.
"Seluruh hasil olahan berupa maggot, ikan, dan ayam tidak dijual bebas ke luar. Manfaatnya dirasakan langsung oleh warga sekolah. Sementara perputaran dana internal digunakan kembali untuk menunjang kebutuhan operasional seperti pembelian dedak," tuturnya.
Bangun Ekonomi Sirkular dan Bekali Siswa Keterampilan Nyata
Program pelestarian lingkungan ini melibatkan partisipasi aktif seluruh peserta didik dari kelas 10 hingga kelas 12, dengan kelas 11-3 dan 11-11 ditunjuk sebagai proyek percontohan utama.
Keterlibatan langsung ini memberikan dampak edukasi yang signifikan bagi para siswa. Salah seorang siswi SMAN 6 Tasikmalaya, Najla Latisha, mengaku memperoleh banyak wawasan berharga terkait implementasi konsep ekonomi sirkular secara komprehensif.
Bagi Najla, pengalaman mengelola sampah hingga menghasilkan output peternakan bukan sekadar formalitas akademik, melainkan bekal hard skill aplikatif yang relevan untuk kebutuhan dunia nyata maupun penerapannya di lingkungan keluarga.
"Kami merasa bangga karena sekolah menyediakan ruang praktik nyata di bidang pertanian dan peternakan terpadu. Keterampilan praktis ini menjadi modal tambahan yang berharga saat para lulusan berbaur di tengah masyarakat kelak," ungkap Najla.
Melalui konsistensi program ini, SMAN 6 Tasikmalaya membuktikan bahwa institusi pendidikan dapat menjadi pionir solusi ekologis, mengikis persoalan sampah perkotaan sekaligus mencetak generasi muda yang berdaya dan berwawasan lingkungan berkelanjutan.










