Program intervensi gizi ini disasarkan khusus kepada kelompok rentan, yakni balita yang mengalami masalah tumbuh kembang serta ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK). Pelaksanaan PMT ini dirancang berlangsung secara intensif mulai Agustus hingga November 2026.
Kepala Puskesmas Karangnunggal, Anwar Nasihin, S.ST., M.M.S.I., menegaskan bahwa jaminan pemenuhan gizi seimbang merupakan fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masa depan. Pihaknya memberikan perhatian ekstra pada ancaman stunting sebagai dampak kekurangan gizi kronis.
"Ibu hamil dan balita adalah kelompok yang paling rawan gizi dan perlu perhatian khusus. Kekurangan gizi pada kelompok ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang," ujar Anwar Nasihin di lokasi kegiatan.
Langkah pengawasan dan evaluasi berkala ini diterapkan guna memastikan pendistribusian makanan tambahan berbahan pangan lokal tersebut berjalan presisi, tepat sasaran, serta efektif. Monev PMT ini diproyeksikan menjadi benteng pencegahan kasus baru stunting di wilayah Karangnunggal.
Anwar juga menyampaikan target optimis dari program kolaboratif tersebut.
"Harapan kami, setelah kegiatan ini berjalan selama kurang lebih dua bulan, ibu hamil dan balita penerima manfaat akan mendapatkan gizi yang jauh lebih baik dari sebelumnya," ungkap Anwar.
Penggunaan pangan lokal dalam skema PMT ini sekaligus mencerminkan sinergi pemerintah kecamatan dan tenaga kesehatan dalam memanfaatkan potensi pangan daerah. Upaya terintegrasi ini diharapkan menjadi angin segar bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya, khususnya di Kecamatan Karangnunggal.










