29°C
Header Billboard Besar (970x250 / 1100x200)

Seni Sinema dan Kepedulian Satwa: Pemutaran Film 'Should We Save the Cat?' Sedot Antusiasme Ratusan Mahasiswa ITB

Kolaborasi empat komunitas menghadirkan pemutaran film pendek dan penggalangan dana perawatan kucing kampus.

Aiwa
Aiwa
Wartawan Tasela•Minggu, 18 Oktober 2026 • 07:30 WIB•249x dibaca
Suasana pemutaran film 'Should We Save the Cat?' di Kampus ITB Ganesha.
Suasana pemutaran film 'Should We Save the Cat?' di Kampus ITB Ganesha.📷 Sumber Terkait
Single Article - Top Banner

KABARTASELA.ID, Bandung — Gelaran pemutaran film bertajuk Should We Save the Cat? sukses menarik perhatian lebih dari 150 pendaftar di Ruang 9009 Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (17/10/2026). Acara ini menjadi ruang rehat sekaligus refleksi emosional bagi civitas akademika melalui medium seni peran satwa.

Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi kolektif antara Ophiuchus Project, Bioskop Kampus LFM ITB, Bahasinema, dan komunitas ITB Street Feeding (ITB-SF). Antrean calon penonton yang terdiri dari mahasiswa aktif berbagai jurusan hingga alumni tampak mengular sebelum acara dimulai pukul 13.00 WIB.

Terdapat empat karya film pendek yang disajikan dalam pemutaran ini. Salah satu tayangan utama yang memikat perhatian adalah film Meong! (2026) garapan sutradara Fransiska Fernanda. Film tersebut menyoroti kisah Naila, mahasiswa tingkat akhir yang berjuang menghadapi tekanan tugas akhir, ditemani oleh seekor kucing kampus bernama Meong. Menariknya, peran Meong dimainkan langsung oleh Siti, kucing oranye liar dari lingkungan Gedung Labtek VII ITB.

Sajian film animasi Whisper of the Horizon (2025) karya Agni Nurhalisah turut memperkaya narasi dengan mengangkat pergulatan batin seekor ikan lele. Sutradara Agni Nurhalisah memaparkan makna filosofis di balik karya animasi tersebut.

Iklan

"Aku tuh mengibaratkan bahwa si lele ini adalah tokoh tersebut. Jadi kalau misalnya tidak menjadi pecel lele, ya gimana lagi untuk bisa menikmati hidup. Menurut aku itu tentang perspektif dalam pilihan hidup saja sih,"

Dua karya lain yang disajikan yakni film How to Be Forgiven by God? (2022) yang mengulas konflik moral empat remaja usai tak sengaja menabrak kucing, serta dokumenter eksperimental Percakapan Harimau (2025) karya Benny Kritia yang mengeksplorasi memori kolektif tentang figur harimau.

Selain penayangan karya dan sesi diskusi bersama pembuat film, kegiatan ini juga diisi dengan aksi penggalangan dana (crowdfunding) untuk mendukung perawatan medis dan pakan kucing kampus oleh ITB Street Feeding. Pengurus ITB Street Feeding, Sari, menyampaikan misi penting komunitasnya dalam menjaga tatanan kehidupan kampus yang harmonis.

"Prinsip nomor satu yang kami pegang, tidak semua orang suka kucing atau hewan, dan mayoritas manusia di dunia ini netral. Tugas kami di ITB Street Feeding adalah menjaga supaya yang mayoritas netral itu tidak sampai bergeser jadi benci,"

Respons positif juga disampaikan oleh penonton yang hadir, seperti Daniel Wijaya, mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2025 yang sengaja hadir untuk menyaksikan film berprestasi tersebut.

"Sebenarnya dengar-dengar saja sih kayak Meong! itu kan highlight-nya buat penampilan hari ini. Itu katanya menang penghargaan dan kebetulan acaranya gratis di kampus sendiri, jadi kayak kesempatan ini,"
Single Article - Bottom Banner
Suka artikel ini? Bagikan ke teman & keluarga:
Bagikan:
Aiwa
Penulis Berita

Aiwa

Wartawan / Reporter Lapangan
"Wartawan di kabartasela.id yang berfokus pada peliputan berita nasional dan dinamika politik."
72 Artikel DiterbitkanBergabung Kamis, 10 September 2026

Berita Terkait Lainnya

Komentar Pembaca (0)

Tulis Tanggapan Anda

Sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang santun dan beretika.

Memuat komentar...