KABARTASELA.ID, BANDUNG — Lorong-lorong gang di kawasan Cibaduyut, Kota Bandung, terus berdenyut mempertahankan reputasinya sebagai sentra produksi alas kaki legendaris. Meski zaman telah berganti, keahlian meracik sepatu buatan tangan tetap menjadi sandaran hidup utama bagi sebagian warganya yang konsisten merawat warisan turun-temurun.
Salah satu pelaku usaha yang bertahan adalah Dawi Jaelani, pemilik merek sepatu wanita Gianina yang beroperasi di belakang Lapas Banceuy. Memulai jenama mandiri sejak 2017 setelah sebelumnya menjadi vendor merek retail, Dawi memproduksi beragam alas kaki mulai dari flat shoes hingga heels berbahan kulit sintetis dan brokat seharga Rp149.000 hingga Rp199.000 per pasang. Bersama timnya, ia sanggup memproduksi hingga 40 pasang sepatu per hari yang dipasarkan lewat lokapasar daring.
"Awalnya usaha sepatu kami masih sebagai vendor dari beberapa brand seperti Fladeo. Namun ketika ada momen pandemi COVID-19, kami melihat peluang marketplace yang beralih menjadi daring, setelah itu baru kami coba membuat brand Gianina," ujar Dawi.
Kendati pasar digital memperluas jangkauan pembeli, Dawi mengeluhkan tingginya beban biaya layanan aplikasi serta kebijakan pengembalian barang, khususnya skema bayar di tempat (COD). Potongan komisi yang besar memangkas keuntungan secara signifikan.
"Misalnya, harga jual sepatu kami sekitar Rp180.000, tetapi setelah dipotong biaya, yang kami terima hanya sekitar Rp130.000. Kalau ada pengembalian barang, kami juga harus menanggung ongkos kirim sehingga semakin mengurangi pendapatan. Bahkan, untuk pengembalian dari daerah di luar Pulau Jawa, kami pernah menanggung ongkos kirim hingga hampir Rp90.000," ungkap Dawi.
Tantangan serupa dirasakan Helmi Muntahal, penerus bisnis keluarga CV Halim Cipta Kreasi yang berdiri sejak dekade 1990-an. Berbekal tenaga kerja terampil, perusahaannya mampu memproduksi 600 hingga 700 pasang sepatu per pekan untuk pesanan instansi, label independen, hingga pelanggan mancanegara asal Malaysia.
"Keunikannya itu handmade barangnya lebih cantik. Lebih variatif. Yang kedua, kelebihan kita bisa ngikutin desain kemauan konsumen," tutur Helmi.
Namun, Helmi tak menampik maraknya serbuan sepatu impor asal Cina dengan harga sangat rendah menjadi rival berat di ranah daring. Guna menyiasatinya, ia mendorong sistem pemesanan dalam jumlah besar guna menekan biaya bahan baku.
"Tantangan yang dihadapi meningkatnya biaya administrasi penjualan online dan persaingan dengan produk impor. Untuk menyiasatinya, saya biasanya mengarahkan konsumen agar memesan dalam jumlah besar atau meningkatkan minimum order quantity (MOQ)," papar Helmi.
Kini, para pelaku UMKM alas kaki Cibaduyut menaruh harapan besar pada ketegasan regulasi pemerintah, khususnya dalam menertibkan aturan platform dagang daring serta perlindungan terhadap produk lokal agar ekosistem niaga tetap berkeadilan.










